SATU HATI (Bersama Pantau Ibu Hamil Risiko Tinggi)

LATAR BELAKANG INOVASI SATU HATI
 
     Kehamilan dan persalinan merupakan proses alami, tetapi bukannya tanpa resiko dan merupakan beban tersendiri bagi wanita. Ibu dapat mengalami beberapa keluhan fisik dan psikologis, diantaranya mengalami kesulitan selama kehamilan dan persalinan, tetapi kebanyakan ibu tersebut pulih sehat kembali setelah mengetahui bayinya normal dan sehat (Manuaba, 2012).

     Kehamilan risiko tinggi adalah keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi. Ibu hamil yang mengalami gangguan medis atau masalah kesehatan akan dimasukan kedalam kategori risiko tinggi, sehingga kebutuhan akan pelaksanaan asuhan pada kehamilan menjadi lebih besar (Robson dan Waugh, 2012). Adapun dampak yang dapat ditimbulkan akibat ibu hamil dengan risiko tinggi sendiri dapat berdampak antara lainkeguguran, partus macet, perdarahan antepartum, janin mati dalam kandungan (Intra Uterine Fetal Death), keracunan dalam kehamilan, bayi lahir belum cukup bulan, dan bayi berat lahir rendah.

     Dampak dari kehamilan risiko tinggi ini dapat dicegahmelaluipemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur yang bertujuan untuk menjaga ibu agar sehat selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat, memantau kemungkinan adanya risiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi serta menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi. 

     Salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan Kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Secara umum terjadi penurunan kematian ibu selama periode 1991-2020 dari 390 menjadi 189 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini hampir mencapai target RPJMN 2024 sebesar 183 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun terjadi kecenderungan penurunan angka kematian ibu, masih diperlukan upaya dalam percepatan penurunan AKI untuk mencapai target SGDs yaitu sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. (Kemenkes RI, 2023).  Di Jawa Tengah Sendiri AKI sempat menanjak tinggi pada saat pandemi COVID 19 terjadi , dari sebelumnya AKI 76,9 per 100.000 KH pada tahun 2019 menjadi 199 per 100.000 KH pada 2021, kemudian perlahan turun hingga 76,15 per 100.000 KH pada tahun 2023 (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2023). 

     Angka kematian ibu yang tinggi masih menjadi permasalahan baik secara nasional, tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota memerlukan terobosan untuk menurunkannya, hal tersebut telah tertuang dalam tujuan utama program pembangunan kesehatan nasional diantaranya melalui: peningkatan kemudahan keterjangkauan tempat serta mutu layanan kesehatan. Beberapa hal yang telah dilakukan oleh pemerintah didalam menurunkan AKI diantaranya melalui : pembangunan infrastruktur kesehatan didaerah pedesaan/ terpencil, pemenuhan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan, peningkatan sumber daya kesehatan terlatih, adanya program jaminan kesehatan bagi keluarga miskin, dan prosedur yang memadai guna menunjang pelayanan kehamilan.

     Untuk mengatasi kematian ibu diperlukan upaya inovatif dan kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan terutama pada ibu hamil Risiko Tinggi. Di Puskesmas Bendan Kota Pekalongan sendiri, terdapat lebih dr 20% kehamilan dengan risiko tinggi,  sehingga dirasa perlu adanya kegiatan pemantauan secara komprehensif terhadap ibu hamil resiko tinggi sebagai upaya dalam mencegah terjadinya komplikasi yang dapat menyebabkan peningkatan angka kematian ibu (AKI). Seringkali pemantauan ibu hamil masih berfokus pada data yg didapat dari pasien yang periksa di fasilitas kesehatan maupun jejaringnya, sehingga dirasa masih kurang maksimal dikarenakan belum ada keterlibatan masyarakat mapupun kader kesehatan yang berada langsung di lapangan. Untuk itu terciptalah Inovasi SATU HATI (Bersama Pantau Ibu Hamil Risiko Tinggi) yang melibatkan kerjasama/integrasi dari berbagai pihak diantaranya bidan, dokter, ahli gizi, petugas kesehatan lingkungan, kader kesehatan dan tokoh masyarakat setempat serta PJ RW dalam upaya pemantauan ibu hamil risiko tinggi. Oleh karena itu, penulis membuat inovasi Bersama Pantau Ibu Hamil Risiko Tinggi (SATU HATI).